Ucapkan:

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Jumat, 26 November 2010

Harinam Sankirtana, Monas, Jakarta 17-01- 2010










personil....: Prabhu Madhavendu das, Sudhir Krishna das, Raghava Pandit das, Vira Kesava das, Ketu Mala das, Kripa Nidhi das, Sananda das, Abhay Kumar das, Ram Gopal das, Made Pusarkaye, Made Toya, Ketut dan kakaknya........

Selasa, 23 November 2010

jakartamellows


personil...: Prabhu Ketumala das, pandu, bagus, mataji komang
lagu         : Vaisnava Thakura

KARUNIA BAGI YANG MENDERITA

buletin oktober 2010

DERITA MANUSIA

Apa yang Anda lakukan ketika penderitaan datang dan mendera Anda? Anda menangis, berdoa, mencari sahabat, makan banyak, berolah-raga, naik gunung, pergi ke kafe atau ke tempat - tempat hiburan, menyibukkan diri dengan kerja? Kebanyakan dari kita sudah memiliki pola kebiasaan untuk menghadapi penderitaan atau lari dari penderitaan ketika ia datang. Tetapi pola kebiasaan itu tidak cukup membuat penderitaan terpahami secara tuntas. Ketika penderitaan datang, seringkali orang menyalahkan faktor-faktor di luar diri, orang lain atau diri sendiri.
Apa salahnya kalau Anda menderita? Penderitaan adalah sifat hakiki dari eksistensi kita sebagai manusia. Tapi kita sering menolak penderitaan. Kita sering bertanya mengapa aku menderita? Aku merasa penderitaanku paling berat. Mengapa orang lain tidak menderita seberat aku? Kita berpikir kalau aku tidak berbuat ini atau itu mungkin aku tidak menderita. Atau kita sering berpikir kalau aku melakukan ini atau itu, memiliki ini atau itu, barangkali aku akan bahagia.

 Pertanyaan - pertanyaan semacam itu membuat kita makin jauh dari fakta penderitaan. Penderitaan dan kebahagiaan itu seperti ayunan bandul yang terus bergerak. Hari ini menderita, besok bahagia, besok lusa menderita. Begitulah seterusnya. Demikian kebahagiaan dan penderitaan silih berganti. Seolah-olah dualitas ini merupakan kenyataan hidup. Kita dapat melihat dualitas itu semu belaka sebab kenyataannya yang ada hanya penderitaan.

DUNIA FANA PENUH SENGSARA
   
    Di dunia material ini ada golongan – golongan manusia, tetapi bagaimanapun juga, dunia ini bukan tempat yang menyenangkan untuk siapapun juga. Dinyatakan dengan jelas di dalam Bhagavad-gita sloka 9.33  anityam asukham lokam : Dunia ini bersifat sementara dan penuh penderitaan, tidak cocok untuk dihuni oleh orang yang sopan santun dan waras.
    Pada umumnya orang yang berdukacita, orang yang membutuhkan sesuatu, orang cerdas dan orang yang ingin tahu, yang pernah melakukan sejumlah kegiatan saleh memuja, atau mulai memuja Tuhan. Selainnya, orang yang hidup dengan perbuatan buruk, walau bagaimanapun status mereka, tidak dapat mendekati Tuhan karena mereka disesatkan oleh energi ilusif. Karena itu bagi orang saleh, jika suatu petaka terjadi, tidak ada pilihan lain selain berlindung kepada kaki-padma Tuhan. Senantiasa ingat kepada kaki-padma Tuhan berarti mempersiapkan diri mencapai pembebasan dari kelahiran dan kematian. Karena itu, walaupun beberapa kali terjadi ancaman malapetaka, kejadian-kejadian itu disambut dengan senang karena memberi kesempatan kepada mereka untuk ingat kepada Tuhan, yang berarti pembebasan.
    Dalam Bhagavad-gita, Tuhan membenarkan bahwa dunia ini adalah tempat berbahaya yang penuh petaka. Orang yang kurang cerdas mempersiapkan rencana-rencana untuk menyesuaikan malapetaka itu tanpa mengetahui bahwa sifat dasar tempat ini memang penuh petaka. Hendaknya orang menjadi maju dalam keinsafan spiritual, sambil menderita segala jenis dukacita yang tidak dapat dihindari, sebab itulah misi kehidupan manusia. Sang roh melampaui segala jenis petaka material, karena itu malapetaka itu disebut palsu belaka.
    Barangkali orang bermimpi bahwa harimau sedang menelan dirinya, sehingga dia menangis karena petaka itu. Tetapi sebenarnya tidak ada harimau dan tidak ada penderitaan itu; itu hanya soal mimpi saja. Dengan cara yang sama, segala malapetaka hidup dikatakan sebagai mimpi. Kalau seseorang cukup beruntung hingga berhubungan dengan Tuhan melalui pelayanan bhakti, maka itu adalah keuntungan baginya.

MAHARAJA JANAKA BERKUNJUNG KE NERAKA

    Maharaja Janaka adalah ayah dari dewi Sita, dan seorang penyembah agung dari Sri Ramachandra. Cerita berikut ini di ceritakan oleh Ananta Sesa, terdapat dalam Padma Purana (patalakhanda 18.31-77).
    Setelah umur yang panjang Maharaja Janaka melepaskan badannya melalui proses Yoga. Sebuah pesawat terbang rohani mendarat dan Maharaja Janaka menaikinya. Ketika pesawat itu mendekati neraka, kediaman Yamaraja, dewa kematian. Tempat dimana para pendosa mendapatkan penderitaan dari hukuman jutaan jenis neraka. Angin yang menyentuh badan Janaka Maharaja berhembus melewati para pendosa, mereka merasakan kebahagiaan dan semua derita mereka hilang. Mereka meratap agar tetap mendapatkan pergaulan Maharaja Janaka, secara memilukan mereka berbicara kepada Maharaja. “Oh tuan kami mohon jangan pergi, kami yang menderita ini merasakan kebahagiaan karena tersentuh hembusan angin yang menyentuh badanmu.

    Mendengar mereka sang raja menjadi penuh rasa iba dan iapun berpikir. “ jika hanya dikarenakan sentuhan hembusan angin yang menyentuh tubuhku aku memberi kebahagiaan bagi penduduk di sini, maka aku akan tinggal di tempat ini. Ini adalah surga bagiku.” 
    Sang raja pun tinggal di depan pintu gerbang neraka. Setelah beberapa saat, Yamaraja yang memberikan penderitaan kepada pendosa itu, datang ke sana. Ia berkata, “Oh raja anda adalah permata orang-orang saleh, mengapa anda datang kemari ? ini adalah tempat untuk para pendosa. Orang sepertimu yang banyak melakukan perbuatan-perbuatan baik tidak seharusnya datang kemari”

    Yamaraj kemudian berkata “Bagi meraka yang tidak mengingat Sri Rama dengan pikiran, kata – kata dan perbuatannya, aku lempar ke dalam neraka dan direbus di sana. Dan bagi mereka yang mengingat Sri Rama, meninggalkan derita di neraka ini dan segera pergi ke Vaikuntha (dunia rohani).”
    Mendengar kata-kata Yamaraja, dengan rasa belas kasih ia membalas. “Karena rasa kasihan kepada mereka aku sebaiknya tidak pergi ke Vaikuntha, meskipun ditempatkan di tempat seperti ini mereka dapat berbahagia hanya karena angin yang menyentuh tubuhku. Jika kau melepaskan semua orang di neraka ini, maka aku akan bahagia dan akan pergi ke Vaikuntha.” Kemudian Yamaraja menjelaskan tentang sebab-sebab para pendosa itu di tempatkan di neraka. Dengan mata yang dipenuhi airmata, Janaka penyembah agung Sri Rama bertanya, “Bagaimana mereka dapat segera keluar dari neraka dan mendapatkan kebahagiaan ?”. Yamaraja menjawab “ Orang-orang ini tidak pernah memuja Sri Vishnu, mereka tidak pernah mendengar tentang kegiatan-kegiatan Tuhan yang luar biasa. Bagaimana mereka bisa dibebaskan ? Jika anda ingin membebaskan mereka, meskipun mereka adalah pendosa besar, maka berilah petunjuk kegiatan-kegiatan saleh yang anda lakukan, seperti bangun pagi, memuja Tuhan Ramachandra dengan hati yang murni, mengucapkan nama Rama dengan tulus. Maka dengan kegiatan seperti itu mereka dapat keluar dari neraka ini.”
    Kemudian Maharaja Janaka memberikan petunjuk-petunjuk itu kepada mereka. Setelah melakukan hal itu mereka yang menderita di neraka segera terbebas dari penderitaannya dan mendapatkan badan rohani, kemudian melihat para pendosa itu terbebas dari neraka, Maharaja Janaka pergi ke Vaikuntha (dunia rohani).

NAMA SUCI KRISHNA

    Maju secara materi berarti dilahirkan dalam keluarga bangsawan dan memiliki kekayaan melimpah, pendidikan tinggi dan tubuh yang menarik yang rupawan. Semua orang tergila-gila dalam upaya mencari segala kemegahan material tersebut. Ini dikenal sebagai kemajuan peradaban material. Tetapi dampak dari memiliki segala harta material tersebut membuat seseorang sombong secara tak wajar, dan dimabukan oleh benda-benda posesif yang temporer itu. Sebagai akibatnya, orang materialistik yang menyombongkan materi tersebut tidak sanggup mengucapkan nama suci Tuhan dengan pujian kepada-Nya secara tulus, “Oh Govinda, Oh Krishna.” Di dalam sastra dikatakan bahwa melalui pengucapan nama suci Tuhan sekali saja, orang-orang berdosa dapat menghilangkan dosanya dalam jumlah lebih besar dari pada yang mampu dibuatnya. Begitulah kekuatan ucapan nama suci Tuhan. Pernyataan itu sama sekali bukan sesuatu yang berlebihan. Nama suci Tuhan benar-benar memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Tetapi nama suci tersebut harus diucapkan secara bermutu juga. Ucapan tersebut bergantung pada kualitas perasaan. Orang yang terdesak mampu mengucapkan nama suci Tuhan dengan penuh perasaan, sedangkan orang yang mengucapkan nama suci Tuhan sambil dirinya berada dalam kondisi makmur secara material tidak akan bisa setulus itu. Orang yang sombong secara material mungkin mengucapkan nama suci Tuhan sewaktu-waktu, tetapi dia tidak mampu mengucapkannya secara bermutu. Kadangkala terlihat bahwa orang yang maju secara spiritual menjadi miskin secara material. Ini bukan sesuatu yang membuat kita patah semangat. Melainkan menjadi miskin seperti itu adalah tanda yang baik, seperti halnya turunnya suhu badan adalah tanda yang baik bagi seseorang yang sedang mengalami demam.
    Dalam mengucapkan nama suci Tuhan orang harus mentolerir suka dan duka yang muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu. Siapapun yang mantap dalam ketabahan hati untuk mencapai tingkat keinsafan rohani yang sudah maju dan dapat mentolerir serangan suka dan duka dengan cara yang sama pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan. Seperti pernyataan Sri Krishna di dalam Bhagavad-gita 2.14 :

matra-sparsas tu kaunteya
sitosna-sukha-duhkha-dah
agamapayino ‘nityas
tams titiksasva bharata

“Wahai putera Kunti, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang setelah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indria, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, wahai putera keluarga Bharata”.
    Jadi, dengan mentolerir segala penderitaan yang datang ucapkanlah nama suci Tuhan :

hare krishna hare krishna
krishna krishna hare hare
hare rama hare rama
rama rama hare hare

dan berbahagialah.....

Senin, 22 November 2010

PRALAYA : HARI KIAMAT

buletin september 2010

2012 ADALAH AKHIR DUNIA ?

Isu dunia akan kiamat pada 2012 karena akan ditabrak planet Nibiru, yang menghebohkan dunia termasuk Indonesia, sudah dibantah oleh lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA. Cerita ini kemudian digabung dengan cerita bahwa kalender suku Maya akan berakhir pada akhir 2012. Kalender Maya memang sangat panjang dan berakhir 2012. Tapi kalender itu tidak berbeda dengan kalender Masehi yang berakhir 31 Desember dan mulai lagi 1 Januari. Jadi, nantinya kalender Maya berakhir 2012 dan akan dimulai lagi tanggal satunya. Dalam teori itu, juga disebut bahwa posisi bumi, matahari, dan pusat galaksi bima sakti  dalam satu garis lurus. Menurut NASA, “Setiap Desember posisi bumi, matahari, berada dalam satu garis lurus dengan pusat galaksi bima sakti, tapi kejadian tahunan itu tak ada dampak apapun.” NASA juga mengatakan “Nibiru dan cerita tentang planet yang mendekat itu bualan internet dan tidak ada dasar fakta yang dapat dipercaya.”
Semua teori kiamat pada 2012 ternyata sudah terbantahkan.

SIKLUS PERUBAHAN JAMAN

     Menurut Vedanta, seluruh manisfestasi material mempunyai awal dan akhir. Inilah ciri dari alam material. Seperti halnya badan material kita mempunyai awal dan akhir, perwujudan kosmik ini juga mempunyai awal dan akhir yang berlangsung berulang kali.
    Kita memiliki informasi dari kesuasteraan Veda tentang sifat alami dari dunia material. Banyak informasi diberikan tentang siklus penciptaan dan peleburan dunia ini yang berlangsung berulang kali. Seperti halnya setiap tahun di suatu wilayah ada empat musim, siklus perubahan musim ini berlangsung berulang kali. Begitu juga siklus empat jaman yang disebut yuga terjadi berulang-ulang kali.

    Ada empat yuga, Satya yuga (jaman keemasan), berlangsung selama 1.728.000 tahun, Treta yuga (jaman perak)berlangsung selama 1.296.000 tahun, Dvapara yuga (jaman perunggu) berlangsung 864.000 tahun dan terakhir Kali yuga (jaman besi) berlangsung selama 432.000 tahun.
    Saat ini kita berada di akhir dari siklus perubahan jaman, yaitu Kali yuga. Pada akhir Kali yuga memang akan ada peleburan besar, tetapi Kali yuga baru saja berlangsung. Jaman ini akan berlangsung selama 432.000 tahun, sampai saat ini 5.000 tahun sudah berlalu, dan masih tersisa 427.000 tahun lagi. Tetapi Kali yuga bukanlah akhir segalanya, ibarat berakhirnya musim salju hanya merupakan awal musim semi yang baru, begitu juga berakhirnya Kali yuga merupakan awal dari jaman Satya yuga yang baru.
Berdasarkan keterangan di atas menjadi jelas bahwa dunia ini tidak akan berakhir pada tahun 2012.

TEORI TENTANG PRALAYA ATAU  HARI KIAMAT
   
Pralaya (Sanskrit) artinya adalah berakhir; menyerap kembali alam diakhir jaman; penghancuran atau mati.
Jenis-jenis Pralaya antara lain :
1.    Nitya pralaya berarti tidur, arti yang lebih luasnya adalah Mati, terjadinya kematian badan.
2.    Laya atau Yuga Pralaya, di akhir Maha Yuga (perputaran 4 yuga), terjadinya banyak sekali kematian (mis perang, gempa dll)
3.    Manvantara Pralaya, terjadi di setiap manvantara, sebanyak 14 Manvantara, berupa banjir
besar yang mendahului adanya Manu ‘manusia’
4.    Dina (hari) Pralaya atau Naimittik Pralaya, terjadi di akhir kalpa (1 hari penuh Brahma = 1000 Maha yuga), hancurnya semesta, Surga dan Neraka (3 dunia: Bhur, bhuwah, swaha)
5.    Mahapralaya, terjadi di akhir Maha Kalpa (100 Kalpa), atau diakhir usia Brahma, dimana 14 Dunia, 5 elemen (tatwa) 3 sifat (triguna) menjadi tak berwujud. Jadi seluruh Brahmanda (telur yang mengembang, semesta dan segala isinya termasuk para dewa) di serap kembali oleh Brahman.
6.    Aatyantika Pralaya, ‘tercapainya perjalanan jiwa lepas dari roda samsara’, khusus arti yang ini, maka waktu terjadinya adalah relatif.
Seperti pernyataan Albert Einstein bahwa energi dan zat tidak dapat dihancurkan, melainkan hanya berubah wujud dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Pralaya atau peleburan bukanlah benar-benar sebuah peleburan, tetapi terserapnya energi dan zat ke dalam “mahat-tattva”. Ini artinya energi material menjadi tidak berwujud. Dunia material ini memiliki dua keadaan yaitu terwujud dan tidak terwujud. Dinyatakan oleh Sri Krishna di dalam Bhagavad gita:

avyaktad vyaktayah sarvah
prabhavanty ahar-agame
ratry-agame praliyante
tatraivavyakta-samjnake

“Pada awal satu hari bagi Brahma, semua makhluk hidup diwujudkan dari keadaan tidak terwujud. Sesudah itu, bila malam hari mulai, sekali lagi mereka terlebur ke dalam keadaan tidak terwujud.” (Bhagavad gita 8.18)
    Selama masih adanya jagat raya ini, sesuai dengan karma dari para makhluk hidup yang memiliki kesadaran, beberapa bentuk kehidupan akan terwujud dalam periode tertentu dari berbagai kalpa dan beberapa mungkin tak terwujud. Pada akhir dari setiap satu hari Brahma, terjadi peleburan sebagian dari jagat raya ini, yang menimbulkan bencana alam besar yang mana kelompok keseluruhan bentuk kehidupan bisa lenyap.
    Pada saat usia Brahma berakhir, yaitu pada akhir setiap 311.040 miliar tahun, terjadilah peleburan total atau keseluruhan. Setelah itu penciptaan dimulai lagi. Jadi, menurut perhitungan kosmologi vedanta, punahnya dinosaurus, yang masih sebuah misteri bagi sains Barat, bukan tak beralasan.

KISAH RSI MARKANDEYA

    Disebutkan bahwa Rsi Markandeya dapat hidup selama dua hari bagi Brahma (1 hari Brahma = 4.300.000.000 tahun di bumi). Itu berarti rsi Markandeya dapat hidup ketika peleburan sebagian terjadi.
 Rsi Markandeya adalah putra dari Mrikandu, setelah mendapatkan inisiasi Brahmana dari ayahnya, ia memantapkan diri dengan menjalani sumpah hidup membujang seumur hidup. Kemudian ia melakukan pemujaan kepada Sri Hari (Personalitas Tuhan Yang Maha Esa) selama masa hidup enam Manu (Manvantara). Pada Manu ke tujuh dewa Indra mengirim Kamadeva dan teman-temannya untuk mengganggu pertapaan sang rsi. Tetapi sang rsi mampu bertahan dengan kekuatan pertapaannya.
    Karena puas dengan  pertapaannya Sri Hari muncul dalam bentuk Nara-Narayana dan bertanya tentang karunia yang diinginkan sang rsi, sang rsi menginginkan karunia agar ia dapat melihat energi mengkhayalkan dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.
    Suatu hari ketika rsi Markandeya mempersembahkan pemujaan malamnya, air peleburan tiba-tiba membanjiri ketiga dunia (Bhur, Bhuvah, Svah). Dengan kesulitan yang luarbiasa sang rsi terombang-ambing di atas air dalam jangka waktu yang panjang. Sampai ia melihat pohon beringin di depannya, di atas daun pohon itu berbaring seorang anak bayi dengan kilauan cahaya memancar dari tubuh-Nya, begitu sang rsi mendekat ke arah daun, sang rsi tertarik oleh tarikan nafas sang bayi, dan seperti nyamuk masuk kedalam tubuh sang bayi.
    Di dalam tubuh sang bayi rsi Markandeya terkagum-kagum melihat seluruh alam semesta ada di dalam tubuh sang bayi, persis seperti sebelum terjadi peleburan. Setelah beberapa saat ia pun terbawa keluar ketika sang bayi mengeluarkan nafas, kemudian setelah mengetahui bahwa sang bayi adalah Sri Hari Sendiri, rsi Markandeya berusaha untuk memelukNya, tetapi tiba-tiba Sri Hari, penguasa segala kekuatan mistik menghilang, begitu juga dengan air peleburan dan rsi Markandeya kembali ke Ashramnya seperti sedia kala.

DI LUAR ALAM SEMESTA MATERIAL

paras tasmat tu bhavo ‘nyo
‘vyakto ‘vyaktat sanatanah
yah sa sarvesu bhutesu
nasyatsu na vinasyati

“Namun ada alam lain yang tidak berwujud, kekal, dan melampaui alam ini yang terwujud dan tidak berwujud. Alam itu bersifat utama dan tidak pernah dibinasakan. Bila seluruh dunia ini dilebur, bagian itu tetap dalam kedudukannya.”
(Bhagavad gita 8.20)
    Berdasarkan sloka di atas diketahui bahwa ada alam lain di luar alam semesta material ini, yaitu alam rohani. Kenyataannya dunia material ini bukanlah rumah kita yang sesungguhnya, kita tidak akan dapat berbahagia di sini. Merupakan sifat alami kita untuk berada di alam rohani, kita akan berbahagia di sana. Alam semesta material yang penuh penderitaan
ini akan selalu ada, terus mengalami proses penciptaan dan peleburan yang berulang-ulang kali mengikuti siklusnya. Tetapi orang cerdas yang mulai mengikuti kesadaran Krishna menggunakan kehidupan manusia sepenuhnya dalam bhakti kepada Tuhan, dengan mengucapkan mantra :

hare krishna hare krishna
krishna krishna hare hare
hare rama hare rama
rama rama hare hare

    Dengan demikian, dalam kehidupan inipun, mereka pindah ke planet rohani Krishna dan berbahagia untuk selamanya di sana, sebab mereka tidak mengalami kelahiran berulang kali.
Sumber :
•    Tempo Interaktif, 14 nov 2009
•    www.krishna.com
•    Seri Vedanta dan Sains (kehidupan dan asal mula jagat raya), HH Bhaktisvarupa Damodara Swami.
•    Bhagavad Gita As It Is, Sri Srimad AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada

BENTUK TUHAN

buletin agustus 2010

SIAPAKAH TUHAN ?

Ada begitu banyak konsep tentang Tuhan di dalam kitab suci setiap agama, mulai dari konsep tanpa bentuk, zat yang maha tunggal, cahaya, sampai pada sesosok orang tua berjenggot duduk di atas tahta. Tetapi seperti apakah kenyataannya ?
Seringkali orang menjadi bingung ketika melihat gambar Krishna. Siapa Krishna ? Ketika kita mengatakan “Krishna” itu berarti kita berbicara tentang Tuhan. Banyak orang, terutama di luar India tidak pernah mendengar tentang Krishna sebelumnya. Mereka berpikir bahwa Krishna adalah Tuhan yang berbeda yang dipuja oleh orang-orang India. Tetapi hanya ada satu Tuhan dan Krishna adalah salah satu namaNya dan Ia memiliki bentuk.
Pada umumnya mereka hanya mengetahui filosofi agama-agama barat, yang tidak menyebutkan secara jelas tentang bentuk Tuhan sebagai Ayah bagi semua makhluk hidup. Karena itulah mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak memiliki bentuk. Tetapi dengan sedikit saja menggunakan logika kita dapat mengetahui bahwa Tuhan adalah Ayah kekal kita. Dan pasti Ia memiliki bentuk. Karena jika kita lihat beberapa generasi kebelakang, kita dapat mengetahui bahwa leluhur kita memiliki bentuk, dan jika leluhur kita saja memiliki bentuk, bagaimana mungkin Tuhan sebagai Ayah bagi semua makhluk tidak memiliki bentuk ? Tuhan adalah Maha Sempurna, jika semua ciptaaNya saja memiliki bentuk mengapa Tuhan tidak ?

KONSEP TUHAN DALAM VEDA

Kitab suci Veda tidak menyangkal konsep bahwa Tuhan tidak memiliki bentuk, tetapi Veda menjelaskan lebih lanjut bahwa menginsafi bentuk Tuhan (Personalitas Tuhan Yang Maha Esa) jauh lebih tinggi dari pada sebuah konsep Tuhan tanpa bentuk.

vadanti tat tattva-vidas
tattvam yaj jnanam advayam
brahmeti paramatmeti
bhagavan iti sabdyate

“Para rohaniawan yang berpengetahuan yang mengenal Kebenaran Mutlak menyebut substansi tunggal tersebut sebagai Brahman, Paramatma dan Bhagavan.”
(Srimad Bhagavatam 1.2.11)
Kebenaran Mutlak adalah subyek dan obyek dan tidak ada perbedaan sifat di dalamnya. Karena itu, Brahman, Paramatma dan Bhagavan menyatu dan satu dalam sifat. Hakikat yang sama diinsafi sebagai Brahman yang tanpa bentuk oleh para siswa Upanisad, sebagai Paramatma yang terlokalisir (berada di tempat-tempat khusus) oleh para yogi dan diinsafi sebagai Bhagavan oleh para bhakta / penyembah Tuhan.
Dengan kata lain, Bhagavan atau Personalitas Tuhan Yang Maha Esa adalah kata terakhir dalam Kebenaran Mutlak. Paramatma adalah perwujudan sebagian dari Personalitas Tuhan Yang Maha Esa dan Brahman adalah sinar yang memancar dari Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Tiga aspek dari Kebenaran Mutlak yang tunggal itu adalah berbagai pandangan yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Ini menjadi jelas bahwa konsep Tuhan tanpa bentuk (Brahman) merupakan salah satu unsur Tuhan Yang Maha Sempurna.
Arjuna bertanya kepada Sri Krishna : “Yang mana dianggap paling sempurna, orang yang selalu tekun berbhakti kepadaMu atau orang yang menyembah Brahman yang tidak terwujud ?” Kemudian Sri Krishna menjawab :

sri-bhagavan uvaca
mayy avesya mano ye mam
nitya-yukta upasate
sraddhaya parayopetas
te me yuktatama matah

“ Personalitas Tuhan Yang Maha Esa bersabda : Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna”.
(Bhagavad Gita 12.2)
Hendaknya orang selalu memusatkan pikirannya pada bentuk Tuhan Yang Maha Esa yang asli, yaitu Krishna. Hendaknya orang jangan
mengalihkan perhatiannya kepada bentuk-bentuk lain yang berasal dari Krishna. Tuhan mempunyai berbagai bentuk, sebagai Visnu, Narayana, Rama, Varaha, dan sebagainya, tetapi sebaiknya seorang penyembah memusatkan pikirannya pada bentuk yang berada di hadapan Arjuna. Memusatkan pikiran pada bentuk Krishna merupakan bagian pengetahuan yang paling rahasia.

BENTUK KRISHNA

Kesusastraan Veda menjelaskan bahwa Tuhan, Krishna memiliki bentuk Personal. Seperti halnya diri kita memiliki bentuk, begitu juga Tuhan memiliki bentuk. Tetapi bentuk Tuhan bukanlah bentuk biasa yang berasal dari hal-hal material seperti kita. Bentuk Krishna sepenuhnya bersifat rohani melampaui hal-hal material (nityo nityanam cetanas cetananam), Krishna adalah mutlak tidak ada perbedaan antara nama Krishna, bentuk Krishna, sifat Krishna, kegiatan Krishna, dan lain sebagainya.
Seperti halnya roh kita berbeda dengan badan kita, pada bentuk Krishna tidak ada perbedaan antara rohNya dan badanNya semuanya adalah mutlak. Krishna dapat melakukan apa saja dengan menggunakan setiap anggota badanNya, Krishna dapat makan menggunakan matanya, melihat dengan tanganNya, mendengar dengan kakiNya, dan kegiatan luar biasa lainya yang tak terpikirkan oleh kita.
Di dalam Brahma samhita Dewa Brahma sendiri menyimpulkan bahwa Sri Krishna adalah Personalitas Tuhan Yang Maha Esa

isvarah paramah krsnah
sac-cid-ananda-vigrahah
anadir adir govindah
sarva-karana-karanam

“Ada banyak kepribadian yang memiliki sifat-sifat Bhagavan, namun Krishna adalah Yang Paling Tinggi, karena tidak ada seorang pun yang dapat melampaui Beliau. Krishna adalah Kepribadian Yang Paling Utama, dan badan Krishna kekal, penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Krishna adalah Tuhan Yang Maha abadi, Sri Govinda sebab segala sebab.” (Brahma Samhita 5.1)


Bentuk Krishna bukanlah hasil imajinasi seorang seniman, ahli filsafat ataupun penyair tertentu setelah melihat hal yang paling indah di dunia material ini. Bentuk Krishna disebutkan dengan jelas di dalam Kesusastraan Veda, seperti Brahma samhita yang menjelaskan ciri-ciri dari bentuk Krishna. Brahma samhita merupakan penjelasan lengkap mengenai bentuk Krishna oleh seseorang yang sangat agung di alam semesta material ini yaitu Dewa Brahma, setelah ia bermeditasi selama beribu-ribu tahun ia bertemu, berhadap-hadapan dengan Krishna, dalam kebahagiaannya yang luar biasa itu ia menjelaskan apa yang ia lihat :

venum kvanantam aravinda-dalayataksam
barhavatamsam asitambuda-sundarangam
kandarpa-koti-kamaniya-visesa-sobham
govindam adi-purusam tam aham bhajami

“Aku memuja Govinda, Personalitas yang paling utama, yang ahli dalam memainkan serulingNya, dengan mata yang merekah seperti kelopak bunga padma, dengan kepala yang dihiasi dengan bulu burung merak,dengan bentuk badan yang indah berwarna seperti awan hujan kebiru-biruan dan ketampananNya menarik hati berjuta-juta dewa asmara” (Brahma Samhita 5.30)

MELIHAT BENTUK KRISHNA

Di dalam Padma Purana dikatakan bahwa kita tidak dapat mengerti tentang bentuk, nama, sifat, dan kegiatan Krishna dengan menggunakan indria - indria material ini.

atah sri-krsna-namadi
na bhaved grahyam indriyaih
sevonmukhe hi jihvadau
svayam eva sphuraty adah

“Tidak ada yang dapat mampu mengerti sifat-sifat rohani dari nama, bentuk, sifat dan kegiatan Sri Krishna dengan menggunakan indria-indria yang dicemari oleh hal-hal material, Hanya ketika seseorang secara rohani menjadi sibuk dalam pelayanan bhakti kepada Tuhan, maka nama, bentuk, sifat dan kegiatan Beliau yang rohani sepenuhnya diungkapkan kepadanya”.
Dengan menggunakan indria-indria yang tidak sempurna kita tidak bisa berspekulasi tentang kesempurnaan tertinggi, lalu bagaimana kita bisa mengerti Krishna ?
Hal itu dimungkinkan jika kita melatih indria kita, menyucikan indria kita. Dengan indria yang sudah suci akan membantu kita melihat Krishna. Dan satu-satunya cara yang paling cocok untuk jaman Kali yang penuh pertengkaran ini adalah dengan mengucapkan maha mantra :

hare krishna hare krishna
krishna krishna hare hare
hare rama hare rama
rama rama hare hare

maka indria kita akan disucikan dan atas karunia Krishna kita akan dapat mengerti segalanya tentang nama, bentuk, sifat, dan kegiatan Sri Krishna.

BHAKTIYOGA SATU - SATUNYA CARA MENGERTI KRISHNA


Di dalam Bhagavad gita Sri Krishna sendiri menyatakan bagaimana DiriNya dapat dimengerti :

bhaktya mam abhijanati
yavan yas casmi tattvatah
tato mam tattvato jnatva
visate tad-anantaram

“Seseorang dapat mengerti tentang-Ku menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, sebagai Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, hanya dengan cara bhakti. Apabila ia sudah sadar akan Diri-Ku sepenuhnya melalui bhakti seperti itu, ia dapat masuk kerajaan Tuhan Yang Maha Esa”.
(Bhagavad gita 18.55)
Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Krishna, serta bagian-bagian yang berkuasa penuh dari Krishna tidak dapat dimengerti oleh angan-angan pikiran atau orang yang bukan penyembah. Jika seseorang ingin mengerti Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, ia harus melakukan bhakti yang murni di bawah bimbingan seorang penyembah yang murni.
Krishna tidak memperlihatkan DiriNya kepada semua orang. Tidak ada orang yang dapat mengerti tentang Tuhan hanya berdasarkan kesarjanaan dari perguruan atau angan-angan pikiran. Hanya orang yang sungguh-sungguh tekun dalam kesadaran Krishna dan bhakti dapat mengerti apa itu Krishna.
Gelar-gelar dari universitas tidak dapat menolong dalam hal ini.
Karena itu perkumpulan kesadaran Krishna ini menyebarkan keterangan mulia kepada segenap masyarakat manusia : yaitu, hanya dengan mengucapkan mantra Hare Krishna orang dapat menjadi sempurna dalam hidup ini dan pulang, kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna.
Maha mantra Hare Krishna bukanlah milik suatu kelompok spiritual tertentu dan bukan juga buatan orang-orang iseng yang mencari keuntungan pribadi, maha mantra ini disebutkan di dalam kesusastraan Veda (Kalisantarana Upanisad) dan merupakan satu-satunya cara untuk mengerti bentuk Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna.
Jadi jangan membuang-buang waktu lagi ucapkan mantra Hare Krishna dan berbahagialah.

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA AJAL TIBA ?

buletin juli 2010

HAL YANG PALING MENGAGUMKAN DI DUNIA
Suatu ketika Yamaraja bertanya kepada Maharaja Yudhisthira, “Apakah hal yang paling mengagumkan di dunia ini?” Maharaja Yudhisthira menjawab :

ahany ahani bhutani
gacchantiha yamalayam
setah sthavaram icchanti
kim ascaryam atah param

“ Setiap hari ratusan bahkan jutaan makhluk hidup pergi ke kerajaan kematian. Tetapi tetap saja, mereka yang masih hidup ingin mendapatkan keadaan yang kekal. Apa yang lebih mengagumkan lagi dari hal ini ? ”
(Mahabharata, Vana-parva 313.116).

Ratusan dan ribuan makhluk hidup menghadapi ajalnya setiap saat, tetapi makhluk hidup yang bodoh berpikir dirinya tak akan mati dan tidak mempersiapkan dirinya dalam menghadapi kematian. Inilah hal yang paling mengagumkan di dunia ini. Semua orang akan mati karena mereka sepenuhnya berada dibawah kendali alam material, tapi tetap saja mereka berpikir bahwa mereka bebas, mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, mereka merasa tak akan mati tetapi hidup selamanya, dan seterusnya.
Mereka yang namanya saja ilmuwan membuat berbagai macam rencana untuk membuat makhluk hidup dimasa depan dapat hidup selamanya, tetapi disaat mereka mengejar pengetahuan ilmiah tersebut, seiring berjalannya waktu, Yamaraja sebagai dewa kematian, akan menyingkirkan mereka dari usaha penelitiannya itu.

MEMPERSIAPKAN MENTAL DISAAT AJAL

yam yam vapi smaran bhavam
tyajaty ante kalevaram
tam tam evaiti kaunteya
sada tad bhava-bhavitah

“Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, wahai putera Kunti”.
(Bhagavad Gita 8.6).
Seperti disebutkan di atas, mentalitas seseorang disaat menghadapi kematiannya sangatlah penting. Tetapi jika kita merasa acuh dan berpikir, “oh, kematian akan datang – apa masalahnya?” maka kita tidak bisa maju didalam jalan spiritual. Seperti halnya udara membawa keharuman, jadi mentalitas seseorang pada saat kematian akan membawanya pada bentuk kehidupan berikutnya.
Jika saya seorang pengusaha. Yang saya lakukan hanyalah berbisnis sepanjang hidup hingga ajal tiba, secara alami mentalitas saya akan menjadi pengusaha.
Seorang pengusaha dari Jakarta pada saat kematiannya bertanya tentang manajemen pabriknya. Pada kehidupan selanjutnya ia mungkin akan lahir sebagai tikus di pabrik miliknya. Hal seperti ini bisa saja terjadi, Pada saat kematian apapun yang kau pikirkan akan membawamu kepada jenis badan tertentu pada kehidupan selanjutnya.

Krishna sangatlah baik hati, dan apapun mentalitas yang membuat seseorang terserap disaat kematian, Krishna akan memberinya jenis badan yang sesuai: “Baiklah, kau berpikir seperti seekor tikus ? jadilah seekor tikus.” “Kau berpikir seperti seekor harimau ? jadilah harimau.” “Kau berpikir seperti penyembahKu ? maka datanglah padaKu.”
Bagaimana seseorang dapat meninggal dunia dengan keadaan pikiran yang benar ? Walaupun Maharaja Bharata adalah kepribadian yang mulia, beliau memikirkan seekor rusa pada akhir riwayatnya dan sebagai akibatnya dalam penjelmaan berikutnya ia diubah sehingga memiliki badan seekor rusa. Setelah menjadi rusa, dia tetap mengenang kegiatannya pada masa lampau, namun ia terpaksa menerima badan sebagai binatang seperti itu. Tentu saja pikiran seseorang selama kehidupannya, menumpuk untuk mempengaruhi pikirannya pada saat ia meninggal. Jadi, kehidupan ini menciptakan penjelmaan yang akan datang. Kalau dalam kehidupan sekarang seseorang hidup dalam sifat kebaikan dan selalu berpikir tentang Krishna
dimungkinkan ia dapat ingat kepada Krishna pada saat akhir riwayatnya.
Kalau ia ingat kepada Krishna pada akhir riwayatnya, itu akan membantu dirinya untuk dipindahkan ke alam rohani Krishna. Kalau seseorang khusuk berpikir secara rohani dalam pengabdian kepada Krishna, maka badan berikutnya akan bersifat rohani (spiritual), bukan material. Karena itu, cara mengucapkan mantra Hare Krishna.

hare krishna hare krishna
krishna krishna hare hare
hare rama hare rama
rama rama hare hare

adalah cara terbaik untuk mencapai sukses dalam mengubah keadaan hidup pada akhir riwayat.

AJAMILA, CERITA DIAMBANG KEMATIAN

Di sebuah kota yang dikenal dengan Kanyakubja (sekarang di India dikenal dengan Kanauj) hidup seorang brahmana yang bernama Ajamila yang menikahi seorang pelacur dan kehilangan semua kualitas kebrahmanaannya karena pergaulannya dengan wanita kelas rendah itu. Ketika itu Ajamila berusia 20 tahun dan dari pelacur itu ia mendapatkan 10 anak. 88 tahun dari kehidupannya dilaluinya dengan kegiatan berdosa, mencuri, berjudi untuk menghidupi keluarganya. Anaknya yang paling kecil diberi nama Narayana, yang secara alami menjadi kesayangan kedua orang tuanya. Ketika dia hampir berusia 90 tahun, kematiannya sudah didepan mata. Pada saat itu kebanyakan anaknya telah tumbuh dewasa, dan secara alami ia menjadi sangat terikat kepada anaknya yang paling kecil, Narayana.
Pada saat kematiannya tiba, Ajamila melihat 3 orang aneh yang menyeramkan siap menjemputnya ke tempat Yamaraja, dewa kematian. Ajamila menjadi sangat ketakutan, dan mulai memanggil anaknya yang sedang bermain di dekatnya. Dengan suara keras dan airmata mengalir deras, entah bagaimana ia menyebut nama suci Narayana.
Walaupun Ajamila tidak bermaksud menyebut nama suci Narayana, melainkan ia hanya bermaksud memanggil nama anaknya, tetapi utusan Sri Visnu, para Visnuduta segera datang karena mendengar nama Tuannya itu. Utusan Yamaraja pada saat itu menarik roh Ajamila dari badannya, tetapi para Visnuduta melarangnya melakukan hal itu. Setelah memberikan penjelasan kepada Yamaduta tentang nama suci sebagai dharma tertinggi, Visnuduta melepas Ajamila dari ikatan Yamaduta dan menyelamatkannya dari kematian yang sudah didepan mata, kemudian Yamaduta kembali kepada Yamaraja dan menjelaskan semua yang terjadi. Ajamila sekarang telah bebas dari rasa takut dan bersujud kepada para Visnuduta, ketika ia ingin mengatakan sesuatu Visnuduta pun menghilang.
Karena pergaulannya dengan Visnuduta Ajamila menjadi bebas dari rasa ketertarikan material dan pergi ke Hardwar di tepi sungai Ganga. Di sana ia melihat Visnuduta dan meninggalkan badan materialnya untuk mendapatkan kembali badan rohaninya, kemudian bersama Visnuduta pergi dengan pesawat rohani ke tempat tinggal Sri Visnu.

THE FINAL DESTINATION (TUJUAN AKHIR)

Kemanakah tujuan kita berikutnya dan dimanakah tujuan akhir kita, dijelaskan oleh Sri Krishna kepada Arjuna di dalam Bhagavad gita;

yanti deva vrata devan
pitrn yanti pitr vratah
bhutani yanti bhutejya
yanti mad yajino ‘pi mam

“Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku”
(Bhagavad Gita 9.25)
Dengan ayat yang penting ini, mudah sekali kita mengerti bahwa seseorang dapat mencapai planet-planet surga hanya dengan menyembah para dewa, atau mencapai planet-planet pita (leluhur) dengan menyembah pita, atau mencapai planet-planet hantu dengan mempraktekan ilmu hitam, mengapa seorang penyembah yang murni tidak dapat mencapai planet Krishna atau Visnu ?
Sayang sekali, banyak orang tidak mempunyai keterangan tentang planet-planet yang mulia tersebut, yaitu tempat tinggal Krishna dan Visnu, dan oleh karena mereka belum mengetahui tentang planet-planet itu, mereka jatuh. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan juga jatuh dari brahmajyoti. Karena itu, perkumpulan kesadaran Krishna ini menyebarkan keterangan yang mulia kepada segenap masyarakat manusia; yaitu, bahwa hanya dengan mengucapkan mantra Hare Krishna orang dapat menjadi
sempurna dalam hidup ini dan pulang, kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

mam upetya punar janma
dukhalayam asasvatam
napnuvanti mahatmanah
samsiddhim paramam gatah

“Sesudah mencapai kepada-Ku, roh-roh yang mulia, yogi-yogi dalam bhakti, tidak pernah kembali ke dunia fana yang penuh kesengsaraan, sebab mereka sudah mencapai kesempurnaan tertinggi”.
(Bhagavad Gita 8.15)
Oleh karena dunia material yang bersifat sementara ini penuh kesengsaraan, kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, sewajarnya orang yang mencapai kesempurnaan tertinggi hingga memasuki planet tertinggi, Krishnaloka, Goloka Vrndavana, tidak ingin kembali lagi ke sini. Planet yang paling utama diuraikan dalam Veda dengan kata-kata avyakta, aksara, dan parama gati. Dengan kata lain, planet itu di luar penglihatan material kita, dan tidak dapat diuraikan. Tetapi planet itu adalah tujuan tertinggi, tujuan para mahatma (roh-roh yang mulia). Para mahatma menerima amanat-amanat rohani dari para penyembah yang sudah insaf akan dirinya. Dengan cara demikian berangsur - angsur mereka mengembangkan bhakti dalam kesadaran Krishna dan menjadi begitu khusuk dalam pengabdian rohani sehingga mereka tidak ingin lagi naik tingkat sampai planet material manapun, atau bercita-cita dipindahkan ke suatu planet rohani. Mereka hanya ingin Krishna dan pergaulan bersama- Krishna; mereka tidak menginginkan sesuatu selain itu. Itulah kesempurnaan hidup tertinggi.
Mungkin sekarang kita telah mengetahui semua hal di atas, tetapi terkadang angan angan pikiran kita berkata, “Jika saya tua nanti dan sudah tidak mampu bekerja lagi, barulah saya akan mulai mengikuti kesadaran Krishna”. Tetapi kematian mungkin akan datang sebelum kita tua atau kita sudah terlalu lemah pada saat tua. Seperti doa raja Kulasekhara;

krsna tvadiya pada pankaja panjarantam
adyaiva me visatu manasa raja hamsah
prana prayana samaye kapha vata pittaih
kanthavarodhana vidhau smaranam kutas te

“ Oh Tuhan, pada saat ini semoga raja angsa pikiran saya memasuki jaringan pada tangkai bunga padma di kaki-Mu, bagaimana mungkin bagiku untuk mengingat-Mu disaat kematian, ketika tenggorokan saya tersedak oleh lendir, dahak, dan udara?”.
(mukunda-mala stotra 33)

Untuk itulah jangan membuang-buang waktu lagi ucapkan mantra Hare Krishna dan berbahagialah