Ucapkan:

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Rabu, 15 Juni 2011

KEHIDUPAN: PARTIKEL SPIRITUAL (SPIRITON)


Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” (disebut atman dalam istilah Vedanta; istilah ‘spiriton’ dipilih oleh penulis). Vedanta menyebutkan bahwa ‘spiriton’ atau partikel spiritual mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

a).Dia adalah energi spiritual yang berbeda dengan energi material Tuhan. b). Dia adalah partikel transendental dan berbeda dari materi secara ontologikal. c). Hanya melalui interaksi antara spiriton dan elemen material maka badan material terlihat aktif dan hidup. d). Sifat dasarnya adalah: (i) Kesadaran (ii) Kehendak bebas (iii) Niat (iv) Tujuan. e). Dia berada di luar persepsi indria-indria biasa tapi dapat dibuktikan. Kesadaran adalah gejala kehidupan yang paling bisa dilihat, sebagai bukti adanya spiriton. Sedangkan, materi bagaimanapun kompleksnya tidak akan mempunyai kesadaran. f). Keberadaannya kekal dan tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. g). Dia memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. h). Dia memiliki keinginan untuk bahagia. i). Dia memiliki daya tarik bukan hanya terhadap makhluk individu tapi juga kepada materi. Kekuatan atau daya tarik antara ibu dan bayinya disebabkan oleh interaksi antar spiriton. Namun, bila bayinya meninggal, kekuatan daya tariknya akan hilang karena spiriton tidak lagi berada dalam tubuh anak itu. Lebih jauh, ketika seseorang meninggal, dia dapat mengalami gejala lepasnya “spiriton” melalui mata, mulut, dubur, atau melalui lubang kulit kepala, bersamaan dengan udara kehidupan.

Di dalam Vedanta, terdapat dua aspek realitas—alam spiritual dan alam material. Harus dicatat bahwa aktivitas makhluk hidup bukan hanya aktivitas fisik. Banyak ilmuwan menghadapi kesulitan besar dalam menjelaskan tingkah laku manusia hanya melalui segi mekanik atau duniawi dan secara intuitif merasakan keterbatasan seperti ini. James Watson, penemu bentuk rantai ganda struktur DNA, mengatakan, “Masih merupakan masalah utama untuk dipecahkan tentang bagaimana informasi disimpan dan didapatkan kembali lalu digunakan di dalam otak. Ini adalah masalah yang lebih besar daripada DNA, dan masalah yang lebih sulit … Anda dapat menemukan gen yang mengatur tingkah laku, tapi hal itu tidak bisa memberi tahu anda bagaimana otak bekerja … kita masih tidak tahu bagaimana otak bekerja …” Baru-baru ini, Stephen Hawking juga mengungkapkan dalam kuliahnya, “Sebagaimana Dirac ungkapkan, persamaan cahaya Maxwell dan persamaan gelombang relativitas … mempengaruhi sebagian besar ilmu fisika, kimia dan biologi. Jadi pada prinsipnya, kita seharusnya mampu memprediksi tingkah laku manusia, namun saya tidak dapat mengatakan bahwa saya sudah berhasil. Masalahnya, dalam otak manusia ada terlalu banyak partikel, sehigga sulit bagi kita untuk dapat memecahkan persamaan tersebut.” Berdasarkan Vedanta, otak dari makhluk hidup yang sudah berkembang adalah organ mesin tubuh yang penting dimana gejala-gejala kesadaran ditransmisikan. Energi kesadaran ditransmisikan dari jiwa spiritual atau ‘spiriton’.

Dalam buku biologi, kehidupan atau makhluk hidup secara umum didefinisikan sebagai yang memiliki potensi untuk tumbuh, berkembang-biak, bergerak, merespon rangsangan seperti sinar, panas dan suara dan ditopang oleh nutrisi, pernafasan dan ekskresi. Tapi apakah yang membuat sistem hidup ini tumbuh? Secara biologis, kita menjelaskan bahwa pertumbuhan disebabkan oleh penggandaan sel melalui berbagai jenis pembelahan sel seperti mitosis dan meiosis. Tapi apa yang membuat sel membelah diri pada tahap awal? Mengapa sebuah sel telur yang telah dibuahi (setelah sel sperma bersatu dengan sel telur) mengalami pembelahan yang membentuk seluruh organ tubuh? Vedanta menjelaskan bahwa dengan adanya ‘spiriton’, tubuh itu digerakkan dan diaktifkan serta mengalami enam jenis transformasi. Dilahirkan, hidup untuk beberapa saat, tumbuh, melahirkan beberapa keturunan, kemudian menua, lalu pada akhirnya hilang dan terlupakan. Itu seperti analogi sebuah mobil dan pengendara. Ketika pengendaranya pergi, mobil tidak dapat bergerak. Demikian pula, ketika sang roh (spiriton) pergi, atau yang biasa disebut kematian, tubuh tidak bisa digerakkan lagi walaupun nyatanya semua mesin molekuler yang membangun tubuh itu masih tetap utuh.

Srimad Bhagavad-gita (7.4-5) menyebutkan tentang perbedaan ‘spiriton’ dengan materi sebagai berikut: bhumir apo nalo vayuh kham mano bhuddir eva ca ahankara itiyam me bhinna prakrtir astadha apareyam itas tv anyam prakrtim viddhi me param jiva-bhutam maha-baho yayedam dharyate jagat Terjemahan: “Tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu—secara keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dari Diri-Ku. Wahai Arjuna, disamping tenaga tersebut, ada pula tenaga-Ku yang lain yang bersifat lebih tinggi, terdiri dari para makhluk hidup (spiriton) yang memanfaatkan sumber daya alam material yang lebih rendah tersebut.” Berdasarkan Vedanta, pengetahuan tentang jiwa atau spiriton (atman) adalah hakikat utama spiritualitas. Bhagavad gita(9.2) menyatakan pengetahuan itu sebagai—raja-vidya raja guhyam pavitram idam uttamam pratyaksavagamam dharmyam su-sukham kartum avyayam yang berarti, ”Pengetahuan ini adalah raja pendidikan, yang paling rahasia dari segala rahasia. Inilah pengetahuan paling murni, pengetahuan ini adalah kesempurnaan dharma, karena memungkinkan seseorang melihat sang diri secara langsung melalui keinsafan. Pengetahuan ini kekal dan dilaksanakan dengan kebahagiaan (BG. 9.2).” Berdasarkan Vedanta, tujuan akhir kehidupan manusia adalah untuk menemukan identitas spiritual yang sejati dan hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. Dr T.D Singh kehidupan dan evolusi spiritual.

Sumber:  www.bvinstitute.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar