Ucapkan:

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Minggu, 10 Juli 2011

MASYARAKAT YANG BEBAS DARI RASA IRI


Śrīmad Bhāgavatam Sloka 4.8.34

gunādhikān mudam lipsed
anukrośam gunādhamāt
maitrīm samānād anvicchen
na tāpair abhibhūyate

"Semua orang harus bertindak dengan cara seperti ini: apabila ia bertemu dengan orang yang lebih berkualifikasi daripada dirinya, ia hendaknya merasa senang; apabila ia bertemu dengan orang yang kurang berkualifikasi daripada dirinya, ia harus menaruh rasa belas kasihan kepadanya; dan apabila ia bertemu dengan orang yang sederajat dengannya, ia harus menjalin persahabatan dengannya. Dengan cara demikian ia tidak akan pernah dipengaruhi oleh tiga jenis kesengsaraan dunia material."

Penjelasan Srila Prabhupada: 
Pada umumnya apabila kita melihat orang yang lebih berkualifikasi daripada diri kita, kita merasa iri kepadanya; bila kita melihat orang yang kurang berkualifikasi, kita akan menghina orang itu; dan ketika kita bertemu dengan orang yang sederajat dengan kita, kita sangat membangga-banggakan kegiatan-kegiatan kita. Ini adalah penyebab dari segala kesengsaraan material. Oleh karena itu resi yang mulia Narada menasehati agar seorang penyembah bertindak secara sempurna. Daripada merasa iri kepada orang yang berkualifikasi, orang sebaiknya merasa senang menerima dia. Daripada menindas orang yang kurang bekualifikasi, orang sebaiknya merasa belas kasihan kepadanya untuk mengangkatnya sampai taraf yang semestinya. Dan bila orang bertemu dengan orang yang setaraf dengannya, daripada membangga-banggakan kegiatan-kegiatannya di hadapan orang itu, lebih baik ia bersahabat dengannya. Orang juga harus memiliki rasa belas kasihan kepada masyarakat pada umumnya, yang sedang menderita akibat melupakan Krishna. Tata krama yang penting ini akan membuat orang berbahagia di dunia material ini.

Masyarakat Yang Bebas Dari Rasa Iri

Inilah kesadaran Krishna. Srila Prabhupada membentuk masyarakat kesadaran Krishna ini karena mereka yang ikut dalam perkumpulan ini, mereka yang akan menjadi anggota dari perkumpulan ini harus mengembangkan kesadaran Krishna yang lengkap. Di sini orang diberikan kesempatan untuk mengembangkan kesadaran Krishna yang lengkap dan untuk melihat Krishna di mana-mana, yo mam pasyati sarvatra sarvam ca mayi pasyati.....(Bhagavad-gita 6.30).
Inilah tujuannya. Ini adalah kata-kata Prabhupada. Prabhupada telah menulis dalam bukunya, "Gerakan kesadaran Krishna bertujuan untuk menciptakan suatu atmosfer yang bebas dari rasa iri. Tentu saja tidak mungkin bagi setiap orang untuk menjadi sadar akan Krishna, tetapi gerakan kesadaran Krishna mampu menciptakan sebuah masyarakat teladan di mana di dalamnya tidak ada rasa iri."

Di manakah ada soal rasa iri dalam masyarakat yang telah dibentuk oleh Srila Prabhupada ini? Jika tujuan ini gagal dicapai, maka bagaimana Srila Prabhupada akan merasa puas? Ini adalah unsur yang paling penting. Jadi di sini dinyatakan, "Pada umumnya ketika kita bertemu dnegan seseorang yang lebih berkualifikasi, kita merasa iri kepadanya." Inilah sifat orang-orang pada umumnya yang bukan Vaisnava - avaisnava. Mereka menjadi iri ketika mereka melihat orang yang lebih berkualifikasi dari diri mereka. Akan tetapi seorang Vaisnava yang sadar akan Krishna sepenuhnya, tidak akan pernah merasa iri. Daripada merasa iri kepada orang yang lebih berkualifikasi lebih baik ia menerimanya dengan senang hati. Krsna-prema krsna bhakte maitri-acarana. Orang yang mengembangkan krsna-prema, mengembangkan persahabatan dengan para Vaisnava, para krsna-bhakta dan orang yang melihat orang yang lebih berkualifikasi dari dirinya, seorang Vaisnava yang lebih berkualifikasi dari dirinya, ia merasa senang. Ia sama sekali tidak merasa iri. Itulah Vasinava yang sejati, Vaisnava yang murni. Inilah tujuan Srila Prabhupada membentuk masyarakat kesadaran Krishna ini. Inilah tujuannya. Oleh karena itu Srila Prabhupada menyatakan, "Gerakan kesadaran Krishna bisa menciptakan sebuah masyarakat teladan yang di dalamnya sama sekali tidak ada rasa iri."

Mana mungkin ada rasa iri jika kamu melihat Krishna? Di sini Srila Prabhupada menyatakan dalam baris penutup dari penjelasannya, "Orang juga harus memiliki rasa belas kasihan kepada orang-orang pada umumnya yang sedang menderita akibat melupakan Krishna." Siapakah yang merasa belas kasihan kepada orang-orang pada umumnya? Siapa? Orang yang sadar akan Krishna sepenuhnya, orang yang melihat Krishna di mana-mana, hanya dia yang memiliki rasa belas kasihan! Jika tidak demikian bagaimana ia bisa memiliki rasa belas kasihan? "Oh, orang ini sedang menderita. Mengapa ia menderita? Ia adalah Jiva-jiva Krishna. Para Jiva sedang menderita. Mengapa? Jiva-jiva Krishna sedang menderita karena mereka telah melupakan kesadaran Krishna." Orang yang melihat hubungan jiva itu dengan Krishna mellihat hal ini dan ia merasa kasihan. Jika tidak demikian bagaimana ia bisa merasa belas kasihan? Tidak akan ada soal rasa belas kasihan sama sekali. Inilah yang paling penting. Hanya Vaisnava seperti itu yang melihat Krishna di mana-mana, orang yang sadar akan Krishna sepenuhnya, dialah yang sungguh-sungguh merasa belas kasihan. Seorang Vaisnava yang melihat Krishna di mana-mana, yang memiliki Krishna-sambandha dan yang hatinya terenyuh  melihat penderitaan para jiva di sini, ia tidak akan bisa duduk dengan nyaman. Ia akan keluar untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kesadaran Krishna. Ia berpikir, "Semoga semua orang menjadi sadar akan Krishna dan semoga mereka berbahagia." Setiap manusia harus bertindak seperti ini sehingga tidak akan ada lagi kesengsaraan sama sekali. Maka dunia ini akan berubah menjadi Vaikuntha-jagat.

Sumber: Buku "trnad api sunicena" oleh Sri Srimad Gour Govinda Swami Maharaja Gurudeva.

Jumat, 08 Juli 2011

KISAH DEWA INDRA MENJADI BABI


Ada sebuah cerita di dalam Upanisad. Suatu hari Indra, raja surga tidak menghormati Brihaspatideva, guru kerohanian para dewa. Karena itu Brihaspati mengutuknya dengan berkata, "Kamu, jadilah seekor babi!! Sebelumnya ia adalah Indra tetapi ia menjadi seekor babi yang makan kotoran, karena ia tidak menghormati Brihaspati, guru kerohaniannya.

Dengan melakukan tindakan yang salah seperti itu ia menjadi seekor babi, makan tinja (kotoran), dan menjadi lupa sepenuhnya bahwa sebelumnya ia adalah Indra, raja para dewa. Ia menjadi lupa sepenuhnya. Kini ia berada di tengah-tengah tumpukan tinja, memakan dan menikmati kotoran itu.

Ia memiliki seorang istri, seekor babi betina yang menghasilkan ratusan anak. Mereka semua makan tinja. Ia melewatkan ratusan tahun dalam keadaan seperti itu - tidak pernah sekalipun berpikir bahwa ia sebelumnya pernah menjadi Indra. Jadi Brahma merasa kasihan kepadanya. "Wah, bajingan ini benar-benar telah lupa bahwa ia sebelumnya adalah Indra." Lalu Brahma turun dan bertanya kepada si babi, "Apa yang sedang kamu lakukan? Dulu kamu adalah Indra, raja para dewa, minum minuman kekekalan (nektar). Sekarang kamu makan tinja? Kamu telah melupakan segalanya? Tidakkah kamu ingat?"

Walaupun ia berulangkali mengingatkannya, Indra tidak mendengarkan Brahma. Kata-kata Brahma tidak bisa masuk ke telinganya. Mengapa? Telinga siapakah yang dimasuki oleh Hari-katha, Krishna-katha ini? Kita sedang membicarakan Krishna-katha, Bhagavat-katha, bukan urusan politik, raja-nithi-katha, gramya-katha. Krishna-katha ini begitu manis, bagaikan minuman kekekalan. Apakah kamu meminumnya? Bagaimana caranya kamu meminumnya? Melalui mulutkah? Minuman kekekalan ini harus diminum melalui telinga! Karna-pute pibanti - Minumlah minuman kekekalan yang manis, Krishna-katha, Bhagavat-katha ini melalui telinga. Dan ke dalam telinga siapakah Hari-katha, Krishna-katha ini masuk? Berapa orangkah yang telah datang ke sini? Kamu bisa menghitungnya satu, dua, tiga, empat. Ada begitu banyak orang, mengapa mereka tidak mau datang ke sini? Mengapa katha ini tidak memasuki telinga mereka? Karena mereka mengembangkan keterikatan yang begitu kuat terhadap badan ini dan hubungan-hubungan badaniah, keterikatan terhadap dunia material dan objek kenikmatan indria. Oleh karena itulah Krishna-katha tidak akan pernah memasuki telinga mereka.

Brahma mengetahuinya karena ia adalah seorang mahajana. Ia mengerti, "Ia tidak mendengar kata-kataku karena ia begitu terikat dengan hubungan-hubungan badaniahnya, begitu terikat dengan istrinya, anak-anak dan makanannya, yaitu tinja. Jadi jika keterikatan itu tidak diputuskan maka ia tidak akan mau mendengarkanku." Oleh karena itu, pertama-tama Brahma membunuh ratusan anak-anaknya. Ketika Brahma membunuh mereka, Indra (babi) menjadi marah dan menguak. Dengan menunjukan taringnya ia berlari menyerang Brahma. Brahma berkata, "Apa yang kamu lakukan? Kamu dulu adalah Indra, raja surga. Mengapa kamu di sini makan kotoran? Aku datang ke sini untuk mengingatkanmu." Tetapi Indra tetap menguak dan berlari menyerang Brahma. Apa yang bisa ia lakukan, Brahma adalah seorang kepribadian yang begitu perkasa, ia tetap tidak mau mendengar Brahma, yang melihat bahwa keterikatannya belum putus sepenuhnya. Anak-anaknya telah terbunuh, tetapi ia berpikir bahwa istrinya, si babi betina, bisa menghasilkan anak-anak lagi. Jadi ada keterikatan di sana. Ketika Brahma membunuh istrinya, ia melihat, "Oh, anak-anakku telah terbunuh dan istriku kini telah mati. Tidak ada seorangpun di sini sekarang."

Kemudian ia bertanya kepada Brahma, "Apa yang anda katakan tadi?"
Brahma berkata, "Dulu kamu adalah Indra, raja surga. Karena inilah aku datang ke sini untuk mengingatkanmu, kamu telah lupa diri."
Indra berkata "Jadi anda ingin agar saya pergi ke sana?"
Brahma menjadwab "Oh, ya."
Indra kembali bertanya, "Apakah ada tinja (kotoran) di sana? Apakah ada babi betina di sana? Kalau ada baru aku mau ke sana!"

Begitu terikatnya kamu lihat. Apa artinya tinja? Ada amrta di sana, ada minuman kekekalan yang begitu manis di sana. Mengapa kamu berbicara kotoran? Apalagi seekor babi betina, ada gadis-gadis surga yang sangat cantik di sana seperti Menaka, Urvasi, dan Sacidevi, permaisuri Indra sendiri. Mengapa kamu menginginkan babi betina, sesuatu yang begitu kotor?

Kamu lihat, keterikatan yang begitu kuat. Selama keterikatan material belum putus, tidak akan ada seorangpun yang mau mendengar Krishna-katha. Ketika saat itu datang, ketika keterikatan itu berakhir, mereka akan datang untuk mendapatkan sadhu-sanga untuk mendengarkan Krishna-katha. Jika tidak demikian, tidak akan ada orang yang mau mendengarnya.

Itulah ceritanya. Sebelumnya ia adalah Indra, lalu ia melakukan karma seperti itu sehingga ia menjadi seekor babi. Sekarang kamu adalah seorang manusia, tetapi jika kamu tidak mau mengembangkan kesadaran Krishna, jika kamu tetap berada dalam kesadaran binatang ini dan mengejar makan, tidur, berketurunan dan membela diri, maka kamu akan menjadi babi, anjing, serangga, burung atau binatang buas. Siapa yang tahu akan menjadi apa anda pada kelahiran selanjutnya nanti?
Jadi inilah ajarannya di sini. Kamu harus mengerti bahwa seluruh kegiatanmu harus dilakukan untuk memuaskan yajna-purusa, Bhagavan, Visnu, atau Krishna. Tidak ada sesuatupun yang dilakukan demi kenikmatanmu sendiri, jika tidak demikian maka sekali lagi kamu akan menjadi babi atau binatang buas. Kelahiranmu akan ditentukan sebagaimana mestinya.

Sumber: Lecture oleh Sri Srimad Gour Govinda Swami Maharaja

Rabu, 06 Juli 2011

KISAH SATI SAVITRI

Cerita pendek Srila Prabhupada
Untuk keberadaan kekal, anda harus menerima Krishna-devatah, Krishna sebagai objek pemujaan. Krishna adalah kekal, dan jika anda menentukan pelayanan anda kepada Krishna, maka Krishna akan menerima anda sebagai pelayan. Secara alami, anda menjadi kekal.

Ada sebuah cerita menarik berhubungan dengan hal ini. Bukan hanya cerita, ini adalah fakta. Savitri-Satyavan. Cerita ini disebutkan di dalam sastra untuk memberikan kita pelajaran. Savitri adalah seorang wanita suci yang setia. Di India, bagi seorang wanita, untuk menjadi sangat suci dan setia kepada suami, mereka menjalankan upacara ritual untuk memuja Dewi Savitri-Satyavan. Jadi Savitri jatuh cinta dengan seorang pemuda yang ditakdirkan meninggal disaat tanggal pernikahannya, tetapi tetap, wanita itu menikahinya. Dia tahu bahwa “begitu saya menikah, dihari yang sama, suamiku akan meninggal.” Jadi dia memohon kepada Yamaraja (dewa kematian). Setelah meninggal. Sang suami meninggal, tetapi ia memohon kepada Yamaraja dengan sangat, sehingga Yamaraja bersedia untuk memberikan wanita itu beberapa karunia.
Lalu, Yamaraja berkata:

Yamaraja    : “Karunia apa yang kau inginkan?”
Savitri         : “Sebagai seorang wanita, aku berharap bahwa aku bisa mendapatkan putraku, dari diriku.”
Yamaraja    : “Baiklah, kau akan mendapatkan seorang putra.”
Savitri         : “Tetapi, jika kau membawa suamiku, bagaimana aku bisa mendapatkan putraku?”

Jadi sang suami dibuat kembali hidup. Jadi secara tidak langsung, jika anda benar-benar menginginkan untuk menjadi kekal penuh kebahagiaan, terima Krishna-devatah. Krishna sebagai objek pemujaan, maka tidak diperlukan untuk berdoa “Buatlah saya kekal”. Tidak. Jika anda menerima Krishna-devatah, maka secara otomatis, seperti halnya karunia dalam cerita di atas, “Ya, ya, kau akan mendapatkan anak.” Secara otomatis suami wanita itu dihidupkan kembali.

Krishna adalah teman yang baik. Beliau begitu baik hati bahkan kepada musuh Beliau memberikan karunia terbaik. Contoh lainnya adalah Putana. Putana datang untuk membunuh Krishna, mengolesi racun di payudaranya. Tetapi Krishna memberikannya kedudukan pada tataran seorang ibu. Krishna sangat berterima kasih bahwa, “Raksasa ini mungkin datang pada-Ku untuk meracuni-Ku, tetapi aku telah mendapatkan susu darinya. Untuk itu ia harus diberikan kedudukan sebagai ibu-Ku.”

Krishna begitu berterima kasih. Jika anda memberikan pelayanan kecil kepada Krishna dengan tulus hati, Krishna tidak akan pernah melupakan anda. Dan Beliau begitu kuat sekali. Jika Krishna menjadi teman anda dan Krishna mengingat anda, lalu apa yang anda inginkan lagi? Bayangkanlah. Maka di sini dikatakan Krishna-devatah. Mantapkan pikiran anda dalam Krishna dan anda akan menjadi bahagia.

Sabtu, 02 Juli 2011

RATHA YATRA (BAGIAN 1)


Makna Rahasia di Balik Ratha-yatra

Oleh: Srila Gour Govinda Swami Maharaj, 11 Juli 1994, Bhubaneswara

Terjadi banyak kesalahpahaman mengenai Sri Jagannath dan Ratha-yatra. Hendaknya kita mengerti tattva yang diuraikan oleh Mahaprabhu, yang dimanifestasikan oleh Mahaprabhu, sebab Mahaprabhu adalah otoritas tertinggi. Siapa itu Jagannath? Tidak ada perbedaan antara Mahaprabhu, Krishna dan Jagannath: “sei Krishna, sei gaura, sei jagannath”. Orang umum tidak mengerti. Mereka menciptakan banyak spekulasi.
Mereka bangga akan pendidikan, kecerdasan dan pengetahuannya. Tapi, orang tidak dapat mengerti Tuhan Yang Maha Esa tanpa karunia Tuhan. Itulah satu-satunya hal yang dibutuhkan. Dan mereka tidak mendengarkan dari seorang sadhu, guru, vaisnava, yang tanpa bantuan mereka tidak ada seorang pun yang bisa mengerti. Hanya seorang penyembah tercinta Jagannath, Krishna dan Mahaprabhu yang akan mengerti. Mahaprabhu adalah seorang acarya. Mahaprabhu datang sebagai seorang acarya, sadhu-guru, dan Dia telah menjelaskan tattva di balik Ratha-yatra. Tidaklah mudah untuk memahaminya—paramo nirmatsaranam satam vedyam.Srimad-Bhagavatam menyebutkan tentang siapa-siapa yang bisa mengerti—yang lainnya barangkali mendengarkan, namun mereka tidak bisa mengerti. Pengertian itu tidak akan memasuki telinga mereka. Saya akan menjelaskan sejarah dan tattva Ratha-yatra berdasarkan bagaimana Mahaprabhu mengungkapnya.

Kemunculan Jagannath
Skanda Purana adalah Purana terbesar di antara delapanbelas Purana. Ada satu khanda yang bernama Utkal-khanda. Di dalam Utkal-khanda kita menemukan segalanya tentang Sri Jagannath dan Purusottama-ksetra, yang juga dikenal sebagai Jagannath-ksetra. Vyasadeva-lah yang menyusunnya. Dalam Skanda Purana Sri Jagannath menyampaikan kepada Maharaj Indrayumna, “Wahai raja, Aku muncul pada hari bulan penuh (purnama) pada bulan Jyestha.” Ini adalah hari saat kita melaksanakan Snana Purnima—upacara memandikan Sri Jagannath. Itu terjadi pada manvantara Svayambhuva, pada bagian pertama Satya-yuga. Sri Jagannath bersabda, “Aku muncul, karena puas dengan pelaksanaan yajnya dan bhakti.” Inilah hari kelahiran Jagannath-deva. Jadi, setiap tahun pada hari tersebut upacara memandikan Jagannath hendaknya diselenggarakan—itulah perintah Sri Jagannath kepada Maharaj Indrayumna. Maharaj Indrayumna adalah seorang penyembah yang agung. Beliau menyelenggarakan seribu korban suci kuda. Karena puas terhadap penyembah-Nya dan yajnya yang dilakukan Maharaj Indrayumna, Sri Jagannath muncul pada bagian kedua manvantara Svayambhuva dan Brahma menyetanakan Arca di kuil.

Sejarah Purba
Jika Anda menghitung periode ini maka Anda akan menemukan tanggal dimulainya pembangunan kuil Jagannath, kapan kuil diresmikan dan kapan Arca disetanakan di simhasana Mereka. Ini terjadi limabelas crore dan tigapuluh empat lakh (153.400.000) tahun silam. Ini menurut otoritas Skanda Purana. Ratha-yatra dimulai pada masa Svarocisa Manu. Terdapat empatbelas Manu dalam satu hari Brahma. Periode pemerintahan mereka disebut manvantara. Manvantara Vaivasvata sedang berjalan saat ini. Svayambhuva adalah Manu pertama, kemudian Svarocisa, dilanjutkan oleh Uttama, Tamasa, Raivata, dan Caksusa. Saat ini sedang berjalan pemerintahan Vaivasvata Manu. Berikutnya akan tiba Savarni, Daksa-savarni, Brahma-savarni, Dharma-savarni, Deva-savarni, Indra-Savarni. Secara keseluruhan empatbelas Manu. Svarocisa Manu adalah Manu kedua dan menurut Skanda Purana Ratha-yatra dimulai saat pemerintahannya. Itu adalah pada Satya-yuga, dan Ratha-yatra terus berlanjut sampai sekarang. Disebutkan bahwa ini akan berlanjut sampai akhir periode parardha [setengah] Brahma. Usia Brahma seratus tahun. Jadi, Ratha-yatra akan terus ada selama setengah usia beliau.

Uraian Veda
Kata ratha ini ditemukan dalam kitab-kitab Veda. Di dalam kitab-kitab Upanisad disebutkan:

atmanam rathinam viddhi    sariram ratham eva ca
buddhim tu sarathim viddhi    manah pragraham eva ca

"Sang jiva atau roh bagaikan seseorang yang duduk di atas sebuah ratha atau kereta, badan adalah kereta itu sendiri, kecerdasan adalah kusir dan pikiran adalah tali kekang."

inidriyani hayan ahur    visayams tesu gocaran
atmendriya-mano-yuktam    bhoktety ahur manisinah

"Orang bijak mengenal indera-indera sebagai kuda-kuda ratha ini dan obyek-obyek indera adalah jalan yang mereka lintasi. Sang roh diikat pada indera-indera oleh pikiran, mengalami kebahagiaan dan kesedihan."

yas tvavijnanavan bhavati    ayuktena manasa sada
tasyendriyany avasyani    dustasva iva saratheh

"Orang yang tidak mampu membedakan bagaikan orang yang telah kehilangan tali kekang; indera-inderanya tak terkendali, bagaikan kuda-kuda liar sang kusir."

yas tu vijnanavan bhavati    yuktena manasa sada
tasyendriyany avasyani    sad-asva iva saratheh


"Tetapi orang yang memiliki kebijaksanaan sebagai hasil dari pengalaman, yang pikirannya senantiasa memegang tali kekang, telah menundukkan indera-inderanya bagaikan kuda-kuda terlatih milik sang kusir."

vijnana-sarathir yas tu    manah pragrahavan narah
so dhvanah param apnoti  tad-visnoh paramam padam

 "Bagi orang yang menjadikan pengetahuan keinsafan tentang Yang Mutlak sebagai kusirnya dan yang mengendalikan pikirannya, ia sampai di ujung jalan ikatan material dan mencapai tujuan tertinggi—kediaman Sri Visnu, Personalitas Tuhan Yang Maha Esa."

Kita dapat melihat bahwa kata “ratha” ini sudah sangat tua usianya, karena dapat kita temukan dalam kitab-kitab Upanisad, yang merupakan bagian tertinggi dari kitab-kitab Veda. Badan ini adalah sebuah ratha atau kereta. Atma—sang roh—adalah rathi—penumpang yang duduk di atas ratha. Ia adalah pemilik ratha. Buddhi, kecerdasan, adalah sarathi, kusir kereta. Pikiran adalah tali kekang yang terikat pada kuda-kuda, dan indera-indera adalah kuda-kuda tersebut. Orang yang mengendarai kereta kuda memasang penutup mata pada kedua sisi mata kuda-kudanya. Mengapa? Dengan cara ini maka kuda-kuda tersebut tidak akan melihat ke sana-kemari. Mereka akan melihat lurus ke depan. Kusir memegang tali kekang dengan erat. Indera-indera adalah kuda tersebut. Dan obyek-obyek kenikmatan indera adalah: sabda, sparsa, rupa, rasa, gandha—suara, sentuhan, wujud, rasa, dan bau. Obyek-obyek ini akan menyeret kereta dan kusirnya. Mata akan menyeret ke arah wujud yang indah, telinga akan menyeret ke arah suara yang merdu, dan hidung akan menyeret ke arah aroma yang enak. Lalu bagaimana keadaan ratha ini? Ia akan diseret ke sana-kemari. Kusir kereta, yaitu kecerdasan, harus sangat ahli. Kecerdasan murni datang dari Krishna. Apabila pikiran Anda mantap pada kaki-padma Krishna, maka Anda akan memiliki kecerdasan yang murni. Maka itu akan menjadi kusir kereta yang ahli. Ia akan memegang tali kekang dengan erat, sehingga kuda-kuda tidak bisa pergi ke sana-kemari. Ia tidak akan membiarkan kuda-kuda melihat obyek-obyek kenikmatan indera. Hanya akan melihat wujud mahatampan Krishna, man mana bhava. Pikiran yang terkendali artinya pikiran yang mantap di kaki-padma Bhagavan Visnu, atau Krishna. Maka indera-indera yang kedudukannya lebih rendah, kuda-kuda tersebut, akan terkendalikan. Kuda-kuda tersebut berada di bawah kendali kusir. Vijnana-sarathir yas tu manah pragrahavan—apabila pikiran sudah terkendali, maka indera-indera terkendali. Jadi, dhvanah param apnoti tad-visnoh paramam padam—maka kereta akan berjalan tenang dan tujuannya adalah kediaman tertinggi Sri Visnu. Apabila kuda-kuda itu sangat liar dan sarathi Anda tidak ahli, jika ia tidak mampu memegang erat tali kekang, jika ia tidak memasang penutup mata pada kuda-kuda tersebut—maka kuda-kuda itu akan melihat ke segala arah dan menyeret kereta ke sana-kemari. Maka Anda tidak akan sampai di tujuan. Jadi, kata ratha ini bukan kata baru. Kata ini adalah kata yang sangat purba di dalam kitab-kitab Veda..........................(BERSAMBUNG)

Sumber: Catatan facebook Uddhava Das pada 22 Juni 2011 "Makna rahasia Dibalik Ratha Yatra Sri Jagannath"

MENGENDALIKAN PIKIRAN

Bhagavad-gītā Sloka 6.35

śrī-bhagavān uvāca
asamśayam mahā-bāho
mano durnigraham calam
abhyāsena tu kaunteya
vairāgyena ca grhyate

"Sri Krishna bersabda: Wahai putera Kunti yang berlengan perkasa, tentu saja sulit mengendalikan pikiran yang gelisah, tetapi hal ini dimungkinkan dengan latihan yang cocok dan ketidakterikatan."

Penjelasan Srila Prabhupada: Kesulitan mengendalikan pikiran yang keras sebagaimana diungkapkan oleh Arjuna, diakui oleh Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi pada waktu yang sama, Beliau menganjurkan bahwa dengan latihan dan ketidakterikatan pikiran dapat dikendalikan. Apa latihan itu? Zaman sekarang tidak ada seorangpun yang dapat mengikuti aturan dan peraturan yang ketat utuk menempatkan dirinya di tempat yang suci, memusatkan pikiran pada Roh Yang Utama, mengendalikan indria-indria dan pikiran, berpantang hubungan suami istri, tinggal sendirian dan sebagainya. Akan tetapi dengan latihan kesadaran Krishna seseorang menjadi sibuk dalam sembilan proses bhakti kepada Tuhan. Kesibukan yang pertama yang paling penting di antara kesibukan-kesibukan dalam bhakti tersebut ialah mendengar tentang Krishna. Mendengar tentang Krishna adalah cara rohani yang sangat kuat untuk menghilangkan segala keragu-raguan dari pikiran. Makin seseorang mendengar tentang Krishna, makin ia dibebaskan dari kebodohan dan ikatan terhadap sesuatu yang menarik pikiran menjauh dari Krishna. 


Dengan melepaskan ikatan antara pikiran dan kegiatan yang tidak dipersembahkan kepada Tuhan, dengan mudah sekali seseorang mempelajari vairagya. Vairagya berarti ketidakterikatan terhadap alam dan kesibukan pikiran dalam kerohanian. Ketidakterikatan rohani yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan lebih sulit daripada mengikat pikiran dalam kegiatan Krishna. Mengikat pikiran pada kegiatan Krishna sangat praktis, sebab kalau seseorang mendengar tentang Krishna, dengan sendirinya ia terikat kepada Roh Yang Paling Utama. Ikatan ini disebut paresanubhuti, yang berarti kepuasan rohani. Hal ini seperti rasa puas di dalam hati orang yang lapar terhadap setiap suap makanan yang dicicipinya. Kalau seseorang lapar, makin banyak yang dimakannya, makin ia merasa puas dan kuat. Begitu pula dengan melaksanakan bhakti, seseorang merasakan kepuasan rohani selama pikirannya menjadi semakin lepas dari ikatan terhadap tujuan-tujuan material. Hal ini seperti menyembuhkan penyakit dengan cara pengobatan yang ahli dan makanan teratur yang cocok. Karena itu, mendengar tentang kegiatan rohani Sri Krishna adalah pengobatan yang ahli untuk pikiran yang gila, dan makan makanan yang sudah dipersembahkan kepada Krishna adalah makanan teratur yang cocok untuk si penderita. Pengobatan tersebut adalah proses kesadaran Krishna.